.

.

.

.
Bismillahirrahmanirrahim...
Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juli 2015

Rezeki Ga Bakal Ketuker

Rumah bu D. Udah diambil oleh orang. Tapi dia masih berat buat menyerahkan. Mau nyari cara.
Seinget beliau, katanya saya bilang, “Atas izin Allah, serahkan saja. Senangkan saja hati, Allah yang
ambil.”
Minta ampun aja sama Allah, ada dosa apa yang sekiranya Allah kemudian tuker sama rumah itu.
Atau ujian aja dari Allah. Diambil lagi sama Allah, kecewa ga?
Percaya aja, bahwa kalo rumah itu udah dititipkan, ya ga bakal pindah tangan.

Selengkapnya...

Jumat, 19 Agustus 2011

Komentar Iblis Tentang Manusia

akarta - Sastrawan Nesir, Abdurrahman Syukri, dalam bukunya Hadis Iblis (percakapan iblis), dengan gaya jenaka dan kritis antara lain mengilustrasikan komentar iblis tentang akhlak manusia. Ucap iblis, "Saya menemukan pada binatang-binatang yang tidak berakal, sifat-sifat yang sangat sedikit disandang oleh manusia. Anjing memiliki kesetiaan yang tidak dimiliki oleh manusia. Kuda memiliki cinta kasih yang tidak dicapai puncaknya oleh banuak manusia."
"Keledai dan bagal memiliki ketekunan dan kesabaran melebihi apa yang diperagakan manusia. Monyet memiliki kecerdasan dan kemampuan meniru, yang tidak sama dengan manusia."

"Hai manusia seandainya kalian mengetahui, pastilah kalian akan mengawinkan putra-putri kalian dengan binarang agar anak-anak kalian dapat mewarisi sifat-sifat terpuji binatang-binatang itu. Kalian tidak usah khawatir wanita-wanita memprotes perkawinan itu. Mereka telah diilhami budi pekerti hewan, karena itu mereka senang menggendong anak-anak anjing dan monyet."

(Sumber buku: Yang Ringan yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Nadzar Kepada Setan

Jakarta - Konon seseorang pernah bermohon kepada Tuhan, namun apa yang dimohonkannya tidak juga berhasil, maka ia berputus asa, lalu berpaling kepada setan dan berkata dalam hatinya, "Jika apa yang kudambakan dan kupinta itu kuperoleh, maka aku ber-nadzar akan bersedekah kepada setan."
Berselang sekian lama, apa yang didambakannya tercapai. Namun ia lupa nazdar (janjinya) kepada setan. Satu malam, ia bermimpi bertemu dengan setan yang menagihnya. Dalam mimpinya ia menjawab, "Aku tidak pernah melihatmu, jadi aku tidak dapat memenuhi janjiku."

Maka setan berkata, "Jika engkau menjumpai anak-anakku maka serahkanlah kepadanya sedekahmu itu". "Di mana dapat kutemui anak-anakmu itu?" tanyanya.

"Jika engkau ke pasar dan menemui seorang yang menipu, maka itulah anakku yang pertama. Jika Engkau mendengar seseorang bersuara keras kepada ibunya, maka ketahuilah itu anakku yang kedua, sedang anakku yang ketiga dapat engkau temui di masjid, yaitu bila engkau melihat seseorang yang selesai salat, tetapi tidak duduk sejenak pun berdoa."

(Sumber buku: Yang Ringan yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini Merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Nu'aiman dan Laki-laki Tua

Jakarta - Makramah bin Naufal -seorang tua berusia 115 tahun lagi disegani oleh penduduk Madinah- suatu ketika berada di masjid dan hendak membuang air kecil. Tapi karena dia buta, maka kamar kecil tidak ditemukannya.
Nu'aiman melihatnya, lalu mengantar Makramah ke satu tempat dan mempersilakannya memenuhi hajat sambil meinggalkannya. Tempat tersebut bukanlah kamar kecil sehingga orang tua itu dikecam oleh yang melihatnya.

Makramah kemudian mengetahui bahwa yang mengantarnya ke tempat itu adalah Nu'aiman, yang sengaja ingin bergurau dan mempermainkannya. Maka dia bersumpah akan memukul Nu'aiman dengan tongkatnya sekuat tenaga bila ia menemuinya.

Nu'aiman selalu mengelak. Setelah berselang waktu yang cukup lama dan Makhramah pun melupakan kasusnya, Nu'aiman datang lagi kepadanya mengingatkan peristiwa itu sambil berkata: "Engkau ingin memukul Nu'aiman? Itu dia sedang salat,"

Padahal yang salat adalah Utsman bin Affan. Nu'aiman mengantarnya kepada Utsman yang sedang khusuk salat, lalu Makhramah memukulnya hingga terluka. Keluarga Makhramah marah besar terhadap Nu'aiman dan merasa malu kepada Utsman, tetapi Utsman RA meminta mereka tidak mengganggu Nu'aiman, apalagi dia adalah salah seorang yang terlibat bersama Nabi dalam perang pertama umat Islam, yakni perang Badr.

(Sumber buku: Yang Ringan yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini adalah kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)


Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Rabu, 17 Agustus 2011

Pohon dan Ular

Jakarta - Seorang ayah berpesan pada anaknya, "Anakku, jika nanti setelah kematianku Engkau bermaksud merenovasi rumah ini, maka lakukanlah, tapi jangan sekali-kali menebang pohon itu," sambil menunjuk ke satu pohon di taman rumah.
Setelah kematian ayahnya, sang anak merenovasi rumah tersebut. Ia tertegun di hadapan taman di mana pohon terlarang itu tumbuh subur. Dia berpikir apa gerangan sebabnya sehingga sang ayah melarangnya. Ia menduga larangan itu disebabkan karena sang ayah ingin agar anaknya menikmati aroma kembang pohon.

Kini, pikir sang anak, sudah ada kembang yang aromanya lebih istimewa, karena itu ia memutuskan untuk menebangnya. Tapi beberapa waktu setelah ditebang muncul seekor ular berbisa yang selama ini tidak pernah terlihat dan yang nyaris mencelakakannya.

Ketika itu barulah si anak sadar rupanya aroma tumbuhan tersebut bukan saja untuk dinikmati oleh manusia, tetapi juga menghalangi ular, yang tidak senang aromanya, untuk mendekat. Demikian ilustrasi al-Ghazali tentang larangan-larangan Tuhan yang boleh jadi hanya terjangkau sebagian maknanya oleh manusia, tetapi banyak lainnya yang belum diketahui, sehingga larangan-Nya harus tetap diindahkan.

(Sumber buku: Yang Sarat dan yang Bijak – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Si Kaya dan Si Miskin

Jakarta - Diriwayatkan bahwa satu ketika ada seorang kaya dengan pakaian indah dan bersih yang datang ke majelis Rasul, lalu duduk di samping beliau. Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang miskin dengan pakaian sangat sederhana, lalu duduk di samping si kaya.

Yang kaya itu menarik pakaiannya agar tidak tersentuh oleh pakaian si miskin. Melihat hal tersebut Nabi bertanya kepadanya:
"Engkau menarik bajumu! Apakah karena khwatir kemiskinannya menimpamu?"
"Tidak wahai Nabi."
"Apakah Engkau khawatir kekayaanmu berpindah kepadanya?"
"Tidak wahai Nabi."
"Apakah Engkau khawatir kotoran pada bajunya melekat pada bajumu?"
"Tidak wahai Nabi."
"Jika demikian, apa yang menjadikan Engkau menarik bajumu?"

Sikaya tertegun tunduk lalu berkata:
"Ada qarin yang berbisik ke dalam benakku; memperindah yang buruk dan memperburuk yang indah, wahai Nabi, keburukan kepada saudaraku yang miskin ini setengah dari hartaku."

Nabi SAW menoleh mepada si miskin dan bertanya:
"Bersediakah Engkau menerima setengah harta saudaramu ini?"
"Saya tidak bersedia."
"Mengapa?"
"Saya khawatir qarin berbisik pula pada saya apa yang dibisikkan padanya."

(Sumber buku: Yang Sarat dan Yang Bijak – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Selasa, 16 Agustus 2011

Pencuri yang Jujur

Jakarta - Seorang pencuri ditangkap oleh petugas pada masa Ali bin Abi Thalib RA. Sang pencuri merengek dan menyatakan bahwa itu adalah pertama kalinya ia mencuri. Ia memohon sambil berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya.

Sayyidina Ali RA berkeras menegakan hukum, sambil menegaskan bahwa tidak mungkin ini kali pertama ia mencuri. Hukum pun ditegakkan.

Lalu Ali RA memohon ketulusan sang pencuri untuk menyampaikan secara jujur telah berapa kali sebelumnya ia mencuri. Sang pencuri yang mnyesal itu mengaku bahwa itu adalah pencuriannya yang keempat puluh.

Ali pun ditanya mengapa beliau begitu yakin bahwa si pencuri telah berulang-ulang mencuri. Beliau menjawab: “Tuhan tidak menjatuhkan hukuman terhadap seseorang yang baru bersalah sekali atau dua kali, karena itu tidak mungkin tertangkap pada pencurian pertama. Allah Maha Penyantun. Dia menangguhkan hukuman untuk memberi kesempatan berintrospeksi dan bertaubat.”


(Sumber buku: Yang Sarat dan yang Bijak – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Penguasa dan Tersangka

Jakarta - Suatu ketika, kepada Mu'awiyah –penguasa dan pendiri Dinasti Umawiyah- dihadapkan seorang tersangka sebagai penjahat dan pembunuh. Mu'awiyah berkata, "Alhamdulillah atas nikmat-Nya sehingga Engkau dapat tertangkap".
"Janganlah berkata demikian, karena ini adalah musibah," jawab tersangka.
"Tidak! Bukankah satu nikmat bila pemerintah dapat menangkap dan menjatuhi hukuman bagi yang mengganggu keamanan dan membunuh teman-temanku?"

Muawiyah kemudian memerintakahkan menjatuhi hukuman kepada tersangka. Si tersangka menengadah kelangit sambil berdoa dan mengadu kepada Allah, "Ya Allah, kupersaksikan Engkau, bahwa Mu'awiyah menjatuhkan atas diriku, bukan karena Engkau tetapi demi teman-temannya yang terbunuh dan untuk meraih keuntungan duniawi. Aku pun bersaksi bahwa Engkau, wahai Tuhan, tidak rela dengan hukuman ini. Ya Allah, jika dia berkeras menjatuhkan hukuman kepadaku, maka perlakukanlah dia sebagaimana layaknya dia diperlakukan, dan jika dia membatalkan keputusannya maka perlakukanlah dia sebagaimana layaknya Engkau memperlakukan hamba-hamba-Mu. Engkau, Ya Allah, adalah Maha Pengampun lagi Maha Adil dan Bijaksana."

Mendengar doa itu Mu'awiyah berkata, "Sungguh Engkau telah memaki dan makianmu mencapai puncaknya. Engkau telah berdoa dan doamu sungguh menakjubkan".

Lalu penguasa itu meninjau keputusannya dan akhirnya membatalkannya.

(Sumber buku: Yang sarat dan yang Bijak – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Jumat, 12 Agustus 2011

Isyarat Kematian

Jakarta - Konon ada seseorang yang bersahabat dengan malaikat maut. Jika malaikat itu datang kepadanya, ia bertanya, "Apakah Engkau datang bertugas mencabut nyawaku atau sekedar berkunjung." Malaikat itu selalu berkata, "Sekadar berkunjung."
Orang itu meminta kepada malaikat agar memberinya isyarat/ tanda beberapa waktu sebelum ia datang bertugas mencabut ruhnya agar dapat lebih siap. Setelah sekian lama, malaikat itu datang untuk mencabut nyawa temannya itu. Tapi orang itu keberatan dan mengingatkan malaikat akan janjinya member isyarat.

Malaikat tersebut berkata, "Aku sudah memberimu isyarat". "Belum," kata temannya.

"Bagaimana belum, padahal bukan satu isyarat saja yang mengunjungimu. Bukankah telah membungkuk punggungmu setelah sebelumnya lurus? Bukankah telah memutih rambutmu setelah sebelumnya hitam? Bukankah telah rontok gigimu setelah sebelumnya kokoh?"

Bukankah telah gemetar suaramu setelah sebelumnya nyaring? Bukankah telah melemah tubuhmu setelah sebelumnya kuat? Bukankah telah kabur matamu setelah sebelumnya jelas? Bukan hanya satu isyarat yang telah mendatangimu, tetapi banyak! Mengapa Engkau mengecamku? Kini aku datang bertugas setelah memenuhi janjiku.

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)


Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Kasih Sayang Ibu

Jakarta - Sang ibu berdiri di depan hakim menguraikan kisahnya yang pahit dengan anak perempuannya. Anak perempuan satu-satunya. Sang ibu telah mengorbankan masa mudanya, kesenangan dan kebahagiaannya demi anaknya.

Dia berkorban tidak keluar menonton hanya agar anaknya tidak ditinggal sendirian. Dia memakai pakaian yang koyak agar dapat membelikan anaknya gaun baru. Dia selalu mendahulukan anaknya atas dirinya; anak yang makan lebih dahulu dan ibu yang makan sisa anaknya.

Tetapi sang anak mengingkari budi ibu. Dia tidak menyukainya bahkan membencinya. Sang anak menilai ibunya sebagai penjaga penjara yang terbuat dari emas, tetapi melarangnya keluar bersama temannya dan menuntut darinya pertanggungjawaban yang berat setiap hari.

Kalau ia pulang, ibu selalu bertanya, "Dari mana Engkau? Siapa saja yang Engkau temui? Dan apa saja obrolan kalian?" Kalau sang anak duduk terdiam, ibunya bertanya, "Mengapa diam? Apa yang Engkau pikirkan?"

Perintah ibu pun tidak henti-hentinya; Cuci kakimu! Sisir rambutmu! Gosok gigimu! Duduk yang baik! Jangan cibirkan bibirmu ketika bicara! Dan lain-lain.

Sang anak memutuskan bahwa cara satu-satunya untuk bebas dari aneka belenggu itu adalah menghabisi ibunya. Maka setiap hari ia mencampurkan sedikit racun dalam makanan ibunya, yang mengakibatkan kesehatan sang ibu memburuk hingga dimasukkan ke rumah sakit. Para dokter menemukan bahwa ada racun yang diberikan kepadanya sejak tiga bulan yang lalu dan seandainya itu berlanjut selama seminggu lagi, niscaya ibu yang malang itu akan meninggal.

Polisi turun tangan dan akhirnya sang anak mengaku bahwa dialah yang memberi racun itu. Di depan pengadilan sang anak mengaku bahwa ia tidak menyesal atas perbuatannya karena dia tidak menyukai ibunya dan memang ingin melepaskan diri darinya. Hakim peradilan Sheffield Inggris terperanjat dan menyatakan bahwa kejahatan tersebut amat serius.

Ini adalah upaya pembunuhan yang disengaja dan dengan tekad yang kuat. Karena itu sang hakim memutuskan bahwa sang anak harus dimasukan dalam penjara anak-anak, tetapi karena undang-undang dalam kasus semacam ini menetapkan keharusan adanya persetujuan tertulis ibu, maka sang hakim mengharap kiranya sang ibu membubuhkan tanda tangan untuk persetujuannya.

Sang ibu memegang pena dengan tangan gemetar dan mulai menggoreskan tanda tangannya atas putusan itu. Tetapi tiba-tiba dia berhenti dan pena terjatuh dari tangannya. Ia lalu menoleh kepada hakim dengan air mata yang berlinang sambil berkata, "Saya harap berilah aku kesempatan sekali lagi, juga dia." (Ali Amin, kolom 'Fikrah', Koran al-Akhbar, Cairo, 10 Juli 1959)

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Taubat Sang Iblis

Jakarta - Konon, suatu ketika Iblis berkunjung ke pemuka-pemuka agama yang melaknat dan mengutuknya, supaya mereka memberi saran agar taubatnya dapat diterima Allah. Semua pemuka agama tidak mengetahui bagaimana menghadapi permintaannya itu dan apa yang harus mereka lakukan.
Karena "jika taubat Iblis diterima, apa jadinya dan bagaimana kesudahan kepercayaan tentang dosa warisan dan jalan keselamatan yang merupakan dampak dari dosa iblis," begitu pikir pendeta Kristen. Rabi yahudi pun tidak berdaya, karena benaknya berkata, "Bila taubat iblis diterima, di mana lagi tempat orang-orang yahudi, yang merupakan bangsa pilihan Tuhan, di antara bangsa-bangsa lain yang disesatkan Iblis?"

Imam besar Islam pun tidak berdaya, karena dia khawatir: "kalau taubat iblis diterima bagaimana jadinya perintah bertaawudz/ memohon perlindungan Allah dari setan yang terkutuk?"

Mendengar semua itu, iblis berteriak "Eksistensi saya diperlukan untuk wujudnya kebaikan. Jiwa saya yang penuh kedelapan harus terus demikian agar dapat merefleksikan cahaya Ilahi." Ketika iyu – tulis Taufiq al-Hakim (sastrawan Mesir kontemporer) melanjutkan ilustrasinya di atas – Iblis menangis, maka berjatuhanlah meteor-meteor menimpa kepala hamba-hamba Tuhan.

Malaikat melarangnya menangis. Iblis dengan putus asa turun ke bumi dan ketika itu keluarlah dari dadanya embusan nafas yang selama ini tertahan, diikuti gemanya secara serentak oleh bintang-bintang dan benda-benda langit memperdengarkan ucapan, "Sayalah sang syahid. Sayalah sang syahid."

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Aku

Jakarta - Tahukah Anda, kata yang lebih menyenangkan dan merdu buat Anda daripada semua nyanyian Ummu Kaltsum dan lagu-lagu Muhammad Abdul Wahhab. Apakah Anda mengetahui kata yang telah Anda ucapkan ribuan kali, tetapi Anda merasa baru sekali? Kata itu adalah kata yang terdiri dari tiga huruf 'Ana' (Aku).
Perusahan telepon 'Bill' merekam 500 percakapan telepon untuk mengetahui kata-kata yang berulang-ulang disebut dalam percakapan, dan ternyata kata 'aku' terulang sebanyak 3.999 kali. Ini berarti setiap pembicara mengulangi delapan kali kata tersebut dalam setiap pembicaraan.

Demikianlah kita menemukan kelezatan dalam membicarakan diri kita, lalu menuduh orang lain tidak menyenangkan, karena ketika membicarakan diri mereka, kita tidak diberikan kesempatan untuk berbicara tentang diri kita. Kita memuji orang lain sebagai 'pembicara yang baik' dan 'orang yang mengerti' karena dia 'pandai mendengar' kerena kita membicarakan diri kita dan bersangkutan mendorong kita berulang-ulang berkata 'Aku'.

Dalam arena kelemahan manusia ini, bertengger dalam hati jutaan lelaki dan juga ribuan pemuda yang berhasil mencapai kedudukan-kedudukan terhormat serta menghindar dari antrean-antrean panjang. 'Seni mendengar' lebih sulit daripada 'seni berbicara'. Seni mendengar membutuhkan kesadaran penuh, kearifan, kemahiran, kecepatan berfikir, serta pengendalian emosi.

Karena itu, jika Anda mendengar orang lain bertanya: Apa Kabar? Atau Bagaimana keadaan Anda? Maka jangan menipu diri Anda dan menduga bahwa yang bertanya ingin mengetahui pendapat para dokter kesehatan (tentang keadaan) Anda (yang sesungguhnya, seperti) persentase butir-butir darah merah dalam darah Anda. Atau apakah Anda telah tidur selapan jam atau hanya empat jam sebagaimana Napoleon!

Jangan sekali-kali Anda terjebak oleh pancingan itu dan cukuplah jawaban yang Anda berikan, "Baik," lalu silakan mitra Anda yang terjebak. Biarkan dia membicarakan penyakit-penyakitnya dan kesulitan-kesulitannya. Jika dia membicarakan dirinya, maka dia akan merasa tenang, dan akan jauh berkurang sikap keras kepalanya serta akan semakin terdorong ia memenuhi permintaan Anda untuk mempermudah urusan Anda. Dia tidak akan mempersingkat pertemuannya dengan Anda, tidak juga akan menghindar dari Anda jika di kali lain Anda meminta waktu untuk bertemu dengannya.

Tetapi jika yang berkunjung itu 'kaku dan tidak menyenangkan' dan Anda ingin mempersingkat pertemuan, maka berbicaralah tentang diri Anda, maka ketika itu dia akan lari menghindar dari Anda sambil 'memohon maaf' karena ada janji penting yang harus dipenuhinya. Karena itu, saudaraku! Jangan berkata 'Aku!' biarlah orang lain saja yang mengatakannya. (Ali Amin, Kolom 'Fikrah', Koran al-Akhbar Cairo, 1 Mei 1956)

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Gadis Kini dan Gadis Masa Lalu

Jakarta - Gadis masa lalu tidak keluar dari rumahnya sendirian. Dia hidup di antara dinding menanti hari di mana seseorang suami akan menyertainya menuju rumah tangga. Kalau kebetulan gadis itu dari keluarga modern, maka dia diizinkan bersama seorang 'penjaga perempuan' yang dipercaya oleh keluarga guna menyertainya ke rumah sahabat sang gadis atau kerabatnya. Tetapi si penjaga harus selalu siap di sampingnya sampai ia mengembalikan gadis itu ke rumah.
Gadis masa kini berontak terhadap penjara yang mengurungnya dan menghancurkan besi yang memagarinya. Dia keluar sendirian menuju dunia bebas untuk membuktikan bahwa dia pantas mendapatkan kebebasan, dan bahwa dia mampu memelihara dirinya dari 'serigala-serigala' yang berkeliaran dalam masyarakat. Kita bertanya, apakah gadis masa kini selamat dari gangguan serigala? Apakah dia mampu memelihara dirinya sebagaimana sipelihara oelh penjaganya kemarin?

Dr Robert Thomson pakar sosiologi terbesar di Inggris berkata, "Gadis masa kini gagal menjaga dirinya." Dia menasihati para ibu dan bapak agar kembali pada peraturan lama dan tidak mengizinkan seorang gadis keluar sendirian kecuali dalam penjagaan seorang penjaga perempuan yang terpercaya, atau dalam penjagaan ibu dan bapaknya.

Pakar itu berkata, "Penggembala yang mahir pun masih meminta bantuan anjing yang terpercaya untuk menjaga kambing-kambingnya dari serigala. Sungguh satu keluguan bila kita menjaga kambing-kambing kita, tetapi tidak menjaga gadis-gadis kita."

Tetapi, apakah nasihat-nasihat di atas dapat dipraktikan? Apakah kondisi keungan orang tua –dewasa ini- memungkinkan untuk menetapkan seorang penjaga bagi setiap gadis? Bisakah kita mengembalikan jarum jam ke belakang? Kalaupun kita mampu 'memenjarakan' gadis, apakah ada jaminan serigala tidak memanjat melalui jendela, atau gadis itu yang turun sembunyi-sembunyi melalui jendela?

Untuk menghindari banyaknya tabrakan mobil dewasa ini, bukanlah dengan kembali mengendarai unta di jalan-jalan raya! Cara satu-satunya membentengi gadis masa kini dari serigala-serigala adalah mengajar dan mendidik mereka, membuka mata dan memperluas wawasan mereka, dan mendorongnya untuk percaya pada ibunya.

Kita harus mengajarnya tentang perbedaan antara kebebasan dan lepas kendali, dan antara cara-cara serigala serta manuver unta dan domba. Ada pun menetapkan panjaga buat para gadis dewasa ini, maka itu adalah upaya lugu yang sia-sia karena dewasa ini mendidik serigala lebih mudah daripada mengurung domba-domba (Ali Amin, Kolom 'Fikrah', Koran al-Akhbar Cairo, 6 Oktober 1959)

(Sumber buku: Yang Ringan yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Suami Istri dan Tamunya

Alif Magz - detikRamadan
Jakarta - Sepasang suami istri merasa sangat keberatan menerima tamu yang tak diundang bermaksud tinggal dirumah mereka. Mereka ingin agar sang tamu segera pulang keesokan harinya, namun mereka tidak tahu persis berapa lama tamu itu akan tinggal.
Maka sepasang suami istri itu sepakat untuk berpura-pura bertengkar. Setelah pertengkaran yang dibuat-buat itu mereda sang suami berkata pada tamunya, "Demi Tuhan yang menghadirkanmu di rumah kami untuk bermalam semalam ini. Siapakah di antara kami berdua yang salah?"

Sang tamu menjawab, "Demi Tuhan yang mengilhami Engkau berdua sehingga rela menerima saya untuk tinggal sebulan di rumah kalian, sungguh aku tak tahu siapakah yang bersalah."

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Kisah Seorang Pria Ceraikan 5 Wanita

Jakarta - Ada seseorang yang menceraikan lima wanita dalam sehari, padahal agama tidak mengizinkan seorang pria memiliki dalam waktu yang sama lebih dari empat orang istri. Kejadiannya adalah sebagai berikut.
Seorang suami menemukan dua orang istrinya sedang bertengkar, maka ia berkata, "Setiap saat kalian bertengkar. Ini disebabkan olehmu, (sambil menunjuk salah seorang dari kedua istrinya itu). Kembalilah ke rumah orang tuamu, Engkau kuceraikan!"

Mendengar talak itu, istrinya yang kedua berkata, "Engkau sangat tergesa-gesa menceraikannya." Sang suami marah dan berkata, "Cerewet! Engkau juga kuceraikan."

Istrinya yang ketiga berkomentar, "Sungguh sampai hati Engkau, padahal keduanya selama ini berbaik-baik kepadamu." Mendengar ucapan ini, sang suami menceraikannya juga.

Ia kemudian menuju istrinya yang keempat dan menceritakan apa yang telah dilakukannya terhadap ketiga istrinya. Istri yang keempat ini bergumam, "Sampai hati benar kau menceraikan tiga istri dalam sehari."

Maka sang suami berkata, "Bukan cuma tiga, empat pun bisa. Engkau juga kuceraikan!" Istri yang keempat ini meraung dan didengar oleh tetangganya yang mengecam suami tersebut.

Tapi sang suami berkata, "Jangan ikut campur! Kalau aku diizinkan oleh suamimu, akupun akan menceraikanmu atas namanya."

Suami perempuan yang mendengar ucapan tadi berkata, "Engkau kuizinkan." Maka jatuhlah talak yang kelima pada hari itu. Demikian longgarnya perceraian pada masa lalu dan demikian sewenang-wenangnya suami ketika itu.

(Hikayat ini merupakan kerjasama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Mengapa Berita Buruk Lebih Banyak Daripada Berita Baik?

Jakarta - Mengapa kita lebih banyak menyebarkan berita-berita kejahatan daripada berita-berita kebaikan? Kalau dikatakan ada seseorang yang mencuri, menipu, berkhianat, atau menyogok, atau kecanduan minuman keras atau perjudian, maka berita itu akan tersebar ke semua pelosok di mana terdapat sahabat, kenalan dan teman.

Dan kalau diberitakan bahwa si A adalah seorang yang jujur, suci dan menolak menjual dirinya, maka berita ini akan terhenti dimana dia bermula dan orang-orang akan mengangguk-anggukan kepala mereka sambil mendiskusikannya dan berusaha untuk membantah berita baik itu.

Orang-orang menerima berita keburukan dengan penerimaan yang baik dan tidak membebani diri untuk membahas dan meneliti kebenarannya. Mereka menerimanya seakan-akan sesuatu yang berharga, lalu menyebarluaskannya di semua tempat, bahkan dengan penambahan-penambahan yang dibutuhkan oleh situasi dan kondisi. Jika meluas siklus berita itu, ia menjadi mitos/ berita besar sehingga kalau kadar yang dicuri, misalnya seribu pound, maka pada akhir perjalanan, berita tentang jumlah yang dicuri paling sedikit mencapai sepuluh ribu pound.

Adapun berita yang mengandung sesuatu yang baik, maka dengan sangat cepat dia terkubur akibat kematian mendadak, bagaikan serangan jantung. Kalaupun ia mendapat kesempatan untuk hidup beberapa saat sehingga berkeliling sekali atau dua kali keliling, maka ia menjadi semakin 'kurus' dan lemah, bahkan seringkali beralih dari berita baik menjadi buruk atau disampaikan disertai dengan anggukan kepala, gumam dan cibiran bibir yang mengandung makna keraguan tentang kebenarannya, atau bahwa berita tersebut adalah berita aneh yang sulit dipercaya.

Bagaimana menafsirkan fenomena ini? Penafsirannya adalah: kejahatan terpendam dalam jiwa. Kita semua memiliki kesalahan, keburukan, nafsu yang mendorong kepada kejahatan. Sehingga ketika kita mendengar berita yang sejalan dengan hal-hal di atas, jiwa menjadi senang, bahkan menambahnya karena dia kita anggap sebagai pembenaran atas kelemahan pribadi kita (kalau kita menganggap diri kita lemah), atau pembenaran atas niat memerkenankan kelemahan itu (kalau kelemahan tersebut masih dalam proses), atau sebagai alasan untuk melakukan tindakan kalau kita masih menahan diri dalam koridor yang tertutup oleh akhlak dan kondisi. (Muahmmad Zaki Abdul Kadir, kolom Nahwa an Nur, Koran al-akhbar, 26 November 1959).

(Sumber buku: Yang Ringan Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Kasihan Para Istri, Apa yang Harus Dilakukannya?

Jakarta - Kalau dia diam, kita menuduhnya berakal kosong sehingga tidak ada yang dapat dia katakan. Sedang kalau dia berbicara kita memakinya dengan cerewet. Dia lupa bahwa tugas istri adalah menenangkan pikiran suami yang sudah demikian letih dengan aneka problem dan beban.

Kalau dia keluar rumah, kita menilainya tidak betah di rumah, mengabaikan urusan anak-anaknya dan membiarkan mereka dididik oleh pembantu. Sedang kalau dia mengurung dirinya di dalam rumah kita berkata bahwa dia enggan menambah wawasannya melalui pertemuan dengan orang lain atau malas menambah pengetahuannya menyangkut apa yang terjadi di luar batas rumah.

Kalau ia tidak bertanya tentang ihwal pekerjaan suaminya, kita menilainya sebagai perempuan yang tidak memiliki arti, tidak dapat meningkat bersama suaminya menuju masa depan, dan tidak juga berusaha untuk berbagi kesulitan dengan suaminya. Sedang bila ia menanyakan ihwal pekerjaan suaminya, maka kita berkata bahwa dia ingin mencampuri segala urusan suaminya.

Kalau dia sayang ibunya dan menggunakan setiap kesempatan untuk mengunjunginya, maka kita menilainya masih kekanak-kanakan; berlari menuju ibu untuk meminta saran buat setiap langkah yang diayunkannya. Sedang bila ia mengurangi kunjungannya kepada ibunya, ia dinilai perempuan yang angkuh yang enggan meraih manfaat dari pengalaman ibunya.

Kalau dia berbicara tentang politik, kita berkata bahwa dia ingin memamerkan pengatahuannya. Sedang kalau dia berbicara menyangkut tetangga, kita berkata bahwa dia seorang yang sempit wawasannya, yang tidak memerhatikan kecuali persoalan yang remeh. Kalau dia berbicara tentang cinta, ia dinilai sebagai wanita picik yang menduga bahwa dunia hanyalah cinta dan asmara.

Kalau dia mengabaikan pakaiannaya, kita menilainya perempuan bodoh yang menduga bahwa tujuan kerapian adalah memancing suami bukan untuk mempertahankannya. Tetapi bila dia memerhatikan pakaiannya kita menuduhnya masih remaja dn bahwa dia lupa bahwa suaminya membeli untuknya pakaian melalui keringat, darah dan stres yang dialaminya.

Kalau dia meminta kepada suaminya agar diajak ke pesta, kita menuduhnya sangat egois dan lupa bahwa suaminya butuh istirahat setelah bekerja keras. Sedang kalau dia mengusulkan kepada suaminya agar tetap berada dirumah, kita menuduhnya sebagai pencemburu yang memenjarakan suami di rumah dan menghalanginya menghirup iudara segar.

Demikianlah. Tidakkah Anda sependapat bahwa kita telah mendzalimi istri masa kini? Kolom 'Fikrah', Koran al-Akhbar Cairo, 6 Juli 1959)

(Sumber buku: Yang Ringan yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Rabu, 03 Agustus 2011

Kisah Imam Masjid yang Tergelincir

Jakarta - Suatu ketika seorang imam masjid, yang seringkali menurut pada istrinya, bermaksud menuju ke masjid mengimami jamaah di pagi hari yang sedang dilanda hujan lebat dan gelap gulita. Istrinya memintanya agar tidak perlu ke masjid, khawatir ia terjatuh, tapi sang suami berkeras.
Ia pun keluar rumah, tetapi baru saja beberapa langkah berjalan, dia tergelincir sehingga terpaksa kembali untuk berganti pakaian. Setibanya dirumah, sang istri meledeknya dan berkata, "Bukankah telah kukatakan tak perlu ke masjid?" setelah berganti pakaian, sang imam keluar lagi dan menuju ke masjid.

Tetapi pada kali kedua ini pun dia gagal sehingga harus kembali lagi kerumahnya untuk mengganti pakaian. Istri sungguh marah, tapi suami tidak mengurungkan niatnya. Sambil berjalan keluar rumah ia mendengar ucapan istrinya: "Kalau Engkau pergi dan terjatuh lagi, aku tidak akan membantumu lagi."

Dalam perjalanannya sang imam bertemu seseorang yang membawa lentera dan menuntunnya sampai ke masjid. Setibanya di masjid sang penuntun meninggalkannya dan enggan salat bersama.

Ketika ditanya siapa dia, penuntun itu menjawab: "Aku adalah setan, tadi kudengar percakapan malaikat ketika Engkau jatuh pertama kali bahwa seisi rumahmu diampuni Tuhan berkat langkahmu. Lalu ketika Engkau jatuh untuk kedua kalinya, kudengar bahwa berkat tekadmu, Tuhan telah mengampuni dosa penduduk kampung ini. Aku khawatir jika yang ketiga engkau pun terjatuh, jangan sampai Tuhan mengampuni dosa seluruh penduduk negeri. Aku tidak ingin hal itu terjadi, maka aku menuntunmu agar engkau sampai ke masjid tanpa terjatuh."

(Kisah ini kerja sama dengan detikcom dengan www.alifmagz.com)
Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

SMK 1 SEMARANG

NU Online

BINA SARANA INFORMATIKA

Arrahmah.co.id

STMIK NUSA MANDIRI

Pusat Kajian Hadis

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP