.

.

.

.
Bismillahirrahmanirrahim...
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juli 2015

Siapa Paling Kaya

 Siapa yang paling kaya di dunia ini…? Coba kasih saya satu nama… yang paling kaya…
Pendiri dan pemilik facebook kah…? Atau Bill Gates yang masih paling kaya…?
Atau siapa tuh… yang dari Arab…? Coba, siapa yang saat ini disebut paling kaya…?
Bukan paling kaya di Indonesia doangan loh… Kasih saya satu nama yang paling kaya di dunia. Boleh juga 2-3 nama…
Jangan jawab Allah atau Rasul-Nya. Sebab saya yang tanya, siapa orang yang paling kaya di dunia ini sekarang ini…?

Selengkapnya...

Dosa Besar

Dosa Besar
Oleh : Buya Yahya Pengasuh LPD Al-Bahjah

Rasullullah SAW bersabda: “alaa unabbiukum bi akbaril kabaa’ir?” ( Inginkah engkau aku beritahu tentang paling besarnya dosa-dosa besar? ) Nabi Muhammad mengucapkan 3 kali. “Qooluu..” Para sahabat Nabi menjawab: "Balaa yaa Rasuulallaah" ( Iya Ya Rasulallah, kami ingin tahu ).” Qoola…” Nabi Muhammad menjawab: "al-isyroku billaah" (menyekutukan Allah). "Wa 'uquuqul waalidaini" (Dan durhaka kepada kedua orang tua).

Selengkapnya...

Kamis, 09 Juli 2015

Bener-bener Harus Belajar Lagi

Perasaan ingin mencuri apakah datangnya dari Allah? Bila perasaan itu tetap semua dari Allah, maka apakah benar boleh mencuri?
Perasaan, pikiran, kemampuan, untuk merekayasa sesuatu, sebut saja korupsi dan kolusi, juga semua datangnya dari Allah? Secara apa-apa ya dari Allah? Lalu?
Bila seorang ayah tiba-tiba ada perasaan menyukai dan ingin menzinahin putri kandungnya, maka darimana datangnya nafsu itu? Dari Allah juakah?
Bila seseorang mencintai suami orang, atau istri orang, adalah perasaan itu juga anugerah dari Allah, dan datangnya dari Allah? Harus bagaimanakah dia?

Selengkapnya...

Rabu, 17 Agustus 2011

Jangan Cari Soulmate, Jodohmu Adalah Tuhanmu

Jakarta - Mencari cinta terkadang menyenangkan namun juga sering melelahkan. Membuat daftar kriteria dari calon pasangan pun terkadang tak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Atau bahkan ada yang merasa telah menemukan cinta, tapi kemudian meragukannya.
Banyak yang mencari apa arti cinta dan siapa sesungguhnya jodohnya. Namun penyanyi religi Islam Hadad Alwi berpendapat lain. Menurutnya cinta dan jodoh ada dalam hati masing-masing manusia. Jodoh itu adalah Tuhanmu, Allah Maha Besar.

"Banyak orang bilang carilah soulmate atau belahan jiwamu. Padahal tak perlu dicari karena sesungguhnya jodohnya manusia adalah Allah dan itu ada di dalam hati masing-masing orang," ujar Hadad sambil meletakkan tangan di dadanya, saat berbincang santai dengan detikRamadan, di rumah kediamannya di Cinere, Depok, Senin (15/8/2011).

Menurutnya, pencarian belahan jiwa tak lantas berhenti dalam sosok manusia. Dalam pendapat Hadad, belahan jiwa rupanya memiliki pengertian yang lebih agung.
Cinta hakiki memang menjadi kepunyaan-Nya. Oleh karenanya, mencintai seeseorang harus berdasarkan cinta manusia kepada Tuhannya.

"Ketika kau mencintai Allah, ia akan memberikanmu jodoh yang terbaik untuk kau jadikan pasangan. Atas dasar itu, cintailah pasanganmu semata-mata karena Allah," kata pria yang akrab dipanggil Abi ini.

Hadad menceritakan kehidupan berumah tangga tak pernah mudah. Oleh karenanya hanya dengan niat dan kecintaan manusia terhadap Allah yang bisa membuat segala kesulitan manusia menjadi mudah.

Ia juga menggambarkan perjalanan manusia bak sebuah lingkaran. Bila manusia jauh dari Allah, ia berada di posisi luar lingkaran. Maka ketika hidupnya sedang naik dan turun maka akan sangat terasa.

"Kalau manusia jauh dari Tuhan, pas turunnya kerasa sekali turunnya dan kalau saat naik ya sangat terasa. Tapi berbeda kalau manusia dekat dengan Allah. Ia berada di tengah titik lingkaran itu di mana seseorang tidak akan merasa hidupnya sedang naik dan turun," terangnya.

Sementara mencari ridho Allah dan berjalan di jalan-Nya, sambung Hadad, harus melalui sebuah proses. Dalam proses itu pula manusia akan menemukan jalan yang sudah ditakdirkannya, bahkan untuk urusan jodoh.

"Saya bicara seperti ini bukan berarti saya sudah menemukan dan berada di titik tengah lingkaran itu. Saya sendiri masih berproses untuk mencari ridho Allah di titik lingkaran itu," tuturnya.

Di bulan penuh berkah ini, Hadad menyelipkan sebuah doa tulus bagi para pencari belahan jiwa. Ia berharap setiap insan untuk selalu mendekatkan kepada Ilahi agar bulan Ramadan kali ini bisa benar-benar membawa berkah.

"Semoga mendapatkan berkah Ramadan. Amin," tutup Hadad sambil tersenyum.

( feb / nvt )

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Jumat, 05 Agustus 2011

Berdoalah dengan Bahasa Kami

Dompet Dhuafa - detikRamadan
Jakarta - Bercita-cita menjadi seorang yang memiliki kehidupan enak boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan dalam agama. Namun cita-cita ingin hidup enak itu seyogianya diiringi dengan niatan untuk bisa memberikan manfaat untuk orang lain. angan egois jika berdoa, hanya berfokus pada dirinya sendiri tanpa sedikit pun terlintas kehidupan orang lain. Seringkali terjadi, orang minta kaya, lalu karena Allah sayang padanya, dikabulkan. Namun setelah memegang harta, dia banyak dinilai sebagai orang yang kikir dan pelit.

Ataupun seorang siswa yang selalu rajin berdoa ingin menjadi orang cerdas cendekia. Dia hanya fokus pada pencapaian pribadi, menjadi juara kelas bahkan hingga juara Olimpiade Sains tingkat dunia, namun sungguh ironis bahwa dia di sekolah dijauhi karena hal sepele: pelit, tidak mau membantu temannya yang kesulitan pelajaran. Ketika dia nanti dewasa, sangat mungkin akan sikut kanan sikut kiri demi menjadi juara, tanpa peduli keadaan sekeliling.

Rasulullah sama sekali tidak bersimpati pada orang yang hebat atau kaya, namun hanya dinikmati sendiri. Beliau justru lebih suka dengan orang yang bermanfaat, artinya kehadiran orang itu membawa banyak kemudahan bagi orang lain. Nabi sering mengajarkan, dalam meminta kepada Allah SWT saja, sudah harus berpikir tentang kebersamaan. Simaklah doa berikut ini:

"Allahumma inna nas'aluka salamatan fia d-din, wabarokatan fi ar-rizki," (Ya Allah, kami memohon keselamatan dalam agama, dan keberkahan dalam rezeki kami)

Permohonan dengan kata 'Nahnu' (kami) mencerminkan semangat kebersamaan yang tinggi. Ketika mulut kita meminta kebaikan, maka kebaikan itu tidak hanya semata untuk diri pribadi, tapi juga untuk orang lain. Siapa dia? Terserah Allah yang mengaturnya. Yang pasti, sejak dari doa pun, Rasulullah sangat mementingkan rasa peduli dengan nasib orang lain. Ketika doa si orang tadi benar-benar dikabul oleh Allah, maka semua orang akan menikmati kebaikannya.

Lebih tegasnya lagi, ketika kita berdoa, langsung kita sebutkan alasan kenapa kita meminta hal ini. Imam Bukhari, seorang ahli hadis terkemuka, semasa hidupnya berhasil menghafal 60 ribu hadis lengkap dengan jalur periwayatannya. Pernah suatu ketika dia diuji oleh 100 ulama, masing-masing membawakan sebuah hadis yang diputar-putar teksnya, dan Imam Bukhari, hanya dengan sekali dengar, mampu mengurutkan 100 hadiz itu satu persatu dari ulama yang pertama.

Ketika ditanya atas kemampuannya, Imam Bukhari menjawab, "Saya bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Dahulu, ketika saya mulai belajar hadis, saya memohon kepada Allah akal yang cerdas, ingatan yang kuat dan pendengaran yang tajam, agar saya dapat menghafal hadis untuk menjaga warisan Rasulullah SAW. Saya pernah bermimpi bertemu Rasulullah dan saya berjalan di depan beliau memegang tabir, melindungi beliau". Maka, mulai saat ini, berdoalah dengan tulus dan tidak egois.

( gst / vit )

Sumber : Detik Ramadhan
Selengkapnya...

Kamis, 04 Agustus 2011

Iman dan Istiqamah

Rikza Maulan Lc M Ag - detikRamadan

Jakarta - Dari Sufyan bin Abdillah Attsaqafi RA berkata, "Aku berkata, wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku satu ungkapan (perkataan) yang aku tidak bertanya kepada seseorang selain kepadamu". Rasulullah SAW bersabda, "Katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah." (HR Muslim)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadis ini. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Antusias para sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW untuk bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai permasalahan agama. Hal ini terlihat jelas dari "bentuk" pertanyaan sahabat kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku satu ungkapan (perkataan) yang aku tidak bertanya kepada seseorang selain kepadamu?".

Pertanyaan ini sekaligus menunjukkan keinginan para sahabat-sahabat yang mendalam untuk "menggali" ilmu dari Rasulullah SAW. Semangat dalam menuntut ilmu para sahabat seperti ini hendaknya menjadi motivasi kita untuk melakukan hal yang sama.

Sehingga di manapun dan kapanpun, terlebih-lebih di bulan Ramadan ini, kita senantiasa termotivasi untuk meningkatkan kapasitas keilmuan kita dengan menggunakan berbagai cara dan metode semampu kita, seperti melalui belajar mandiri, mengikuti pelatihan, seminar, majelis taklim, pengajian, dsb.

2. Dari segi bahasa, istiqamah merupakan bentuk masdar (baca: infinitif) yang berasal dari kata istaqama – yastaqimu – istiqaman, yang memiliki arti menjadi tegak dan lurus. Singkatnya adalah bahwa orang yang istiqamah adalah seseorang yang senantiasa 'lurus' dalam menjalani kehidupannya dan tidak mudah berpaling dari 'keridhaan' Allah SWT.

Salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Bakar al-Shiddiq RA, memberikan jawaban ketika beliau ditanya tentang istiqamah: Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, "istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun". (Al-Jauziyah, tt: 331).

Ibnu Qayim Al Jauzi mengomentari, bahwa Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam gambaran tauhidullah (mengesakan Allah SWT). Karena seseorang yang istiqamah dalam pijakan tauhid, insya Allah ia akan dapat istiqamah dalam segala hal, di atas jalan yang lurus. Ia pun akan beristiqamah dalam segala aktivitas dan dalam segala kondisi. (Al-Jauziyah, tt: 331)

1. Bahwa cakupan Istiqamah meliputi seluruh sisi kehidupan. Istiqmah dilakukan dalam aspek ibadah kepada Allah SWT; dalam berbuat baik (baca; akhlak) kepada orang tua, keluarga, dan masyarakat; dalam memperjuangkan kebaikan, menjaga amanah, melakukan pekerjaan dan lain sebagainya. Orang yang istiqamah senantiasa akan menjaga dengan baik, seluruh amanah yang diembankan Allah kepada dirinya.

2. Bahwa dasar atau pondasi dari istiqamah adalah keimanan kepada Allah SWT. Sehingga istiqamah tidak dikaitkan dengan sesuatu yang tidak memiliki keterkaitan dengan keimanan. Seperti dalam perbuatan maksiat, menonton tv, main games, membicarakan kejelekan orang lain, dsb. Istiqamah hanya dilekatkan pada sesuatu yang memiliki keterkaitan dengan keimanan. Seperti istiqamah dalam keikhlasan, kejujuran, memperjuangkan kebaikan, membaca Al Qur'an, salat Tarawih, dsb.

3. Orang yang senantiasa istiqamah akan mendapatkan surga dan keridhaan Allah SWT. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushilat (41) 30).

4. Oleh karenanya, hendaknya kita bersama-sama menciptakan suasana yang memotivasi untuk beristiqamah. Seperti budaya saling menasehati, menghidupkan majelis-majelis ilmu, kajian-kajian keislaman, dsb. Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah. Wallahu a'lam bis shawab.

( gst / vit )

Sumber : Detik Ramadhan

Selengkapnya...

SMK 1 SEMARANG

NU Online

BINA SARANA INFORMATIKA

Arrahmah.co.id

STMIK NUSA MANDIRI

Pusat Kajian Hadis

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP